Pacarmu Bangsat! #Viviana - Ridho Zamroni

Translate

Sunday, 12 November 2017

Pacarmu Bangsat! #Viviana

Pacarmu Bangsa! 


"Ting tung, ting tung, ting tung" Bunyi nada dering chat melalui BBM pada malam ini.

"Dho, besok aku bonceng kamu ya? Motorku bannya bocor tadi" isi chat dari viviana.

"Iya gampang, tapi ada syaratnya?"

"Emmm... apa syaratnya? "

"Mudah kok, lo harus nyebokin gue"

"Anjir, tega amat lo sama gue, dho" sedikit kaget melihat balasan chat dari gue.

"Hahahaha" Sambil tertawa sendirian.

"Masak cewek cantik gini di suruh nyebokin?"

"Hahahaha " Masih sambil tertawa sendirian.

"Serius ini dho!"

"Gue malah dua tiga empat rius, vi"

"Aaah " chat memalas.

"Iya iya serius, syaratnya mudah kok. Lo nanti contekin gue pas ulangan Bahasa Jawa,  bagaimana mau? "

"Lhooh kan tempat dudukku jauh, kamu paling belakan gue paling depan? "

"Yha nanti lo pindah tempat duduk sama gue lah" mencoba merayu Viviana.

"Emmm... Oke deh. Tapi awas kalau lo berani macam - macam! " Mengancam Gue.

"Nggak kok, paling cuma sedikit hehe" Menggoda Viviana.

"Huuu...  Dasar cucunya kakek sugiono"

"Anjir! Lo sering nonton B*kepnya kakek sugiono ya?"

"Nggak pernah aku dho, aku tau cuma kata orang aja"

"Bilang aja lo sering nonton hahaha  "

"Auah.. Susah omongan sama kamu dho" Mulai putus asa.

"Iya, Iya, gue percaya kok"

Keesokan harinya guepun yang biasanya bangun tidur pagi jam 6, sekarang ini gue bangun jam 5.30. Entah tak tau kenapa perasaan gue berbunga - bunga, sekaligus pikiran terkoyak menjadi semakin larut dihantui sosok viviana, si cantik anak bapak dan ibunya.

Gemricik air mengalir membasahi tubuh dengan usapan tangan membasuh sela - sela tubuh, yang diakhiri dengan balutan handuk mengeringkan badan.

Muka bantal habis tidur, bau kasur habis tidur dan muka monyet habis tidur sudah tergantikan dengan kondisi tubuh serasa segar mirip aliando. (halusinasi tingkat dewa)

Tradisi sebelum berangkat sudah selesai, kini saatnya memacu motor matic, untuk menuju rumah Viviana dengan hati berbunga penuh semangat.

"Yaelah ridho, gue nunggu kamu udah sejak jam 6.15 tadi  malah kamu jam 6.40 baru datang" Sambil menunjukan muka cemberut.

"Hehehe sekolah deket,  berangkat pagi emang mau buka gerbang lo vi? " Membalas sambil menggodanya.

"Ya nggak lah, kan semakin pagi lebih baik, dho"

"Iya,  iya. Ayo cepet berangkat sekarang, muka lo kalau ceramah kayak pantat panci tauk". Ucapan mengejek Viviana.

"Yaelah, aku kasih tau malah lo anggap ceramah! "


Vivana segera menaiki motor matic gue dengan goyangan pantat yang aduhai, walaupun mengenakan rok biru osis ala anak SMP pada umunya. Apalagi dilengkapi dengan balutan make up tipis, bibir tipis, senyuman manis & mulut juga lamis.

"Ayo berangkat, dho"

"Siap beb"

"Iya,  cepetan ya beb"

Entah sedang diterjang perasaan apa? hati gue semakin berbunga - bunga mendengarkan balasan darinya menggunakan kata 'Beb', atau mungkin justru gue yang baper duluan?

Tak berapa lama diapun dia meletakan tanganya di leher gue. Secara otomatis, jantung gue terasa berdetak kencang merasakan benda apa yang berada dipunggung gue.

Seketika itu juga gue hilang konsentrasi, yang tadinya kami saling bercanda tertawa ria, kini hanya saling membisu.

Gue juga tidak tau, apakah dia sadar atau tidak? Bahwa bendanya nempel di pundak gue. Apabila gue ungkapin rasanya dengan kalimat cuma mau bilang 'Uhh Ahh' Enak bener!

40 menit kemudian, kamip sudah sampai di sekolahan dan segera ke penitipan motor. Sebab, siswa tidak boleh nembawa motor di sekolahan. Alhasil kamipun menitipkan motor lalu segera untuk masuk kedalam sekolahan SMP.

Saat Gue dan Viviana sudah berada dalam sekolahan, tepatnya berjalan di lorong kelas. Terdengar suara yang nyentil bagi kami.

"Cie, cie, cie..! Pacar Viviana baru. Ati - ati si Dimas marah" Suara Andy di bangku lorong kelas ini.

"Anj*ng lo!  Itu mulut apa kentut?  Suaranya kok di dengerin gak enak" Bentakan dari Gue untuk Andy.

Dimas merupakan pacar viviana sekarang, hubungan mereka sudah berjalan selama 4 bulan lebih. Tapi, buat Gue gak menghiraukan apa kata dia, "walau mau pacarnya marah / ngajak duel, gue juga siap!" berbicara dalam hati. Lha wong, posisi posisi gue disini cuma temen deket doang, gak ada niatan untuk berpacaran.

Kamipun sampai di dalam kelas, segera mencari tempat duduk pada bangku yang masih kosong untuk kita berdua. Karena sebelumnya Viviana sudah bilang bahwa dia menyetujui duduk satu bangku dengan gue. Supaya nanti saat ulangan gue bisa mencontek dia, sesuai kesepakan yang kami buat sebelumnya.

Akhirnya bangkupun gue temukan, yakni nomer dua dari kanan, berada belakang pinggir tembok, "lumayanlah jauh dari meja guru" Ucap syukur dalam hati, membuat perasaan gue semakin 'Uhh Ahh'.

Setelah jam ke 4 di mulai yakni ulangan 'Bahasa Jawa'. Akhirnya tujuan Gue duduk bareng Viviana terkabul, sebab gue orang jawa asli tapi tidak mengerti tentang materi 'Aksara Jawa'.

Maka dari itu, gue suruh Viviana untuk duduk berada di samping. Jadi tak perlu lagi ribet - ribet ulangan tengok kanan kiri sampai leher mau copot, hanya untuk mencari contekan teman gue lainya. Itupun belum tentu di contekin!

Sesudah ulangan bahasa jawa dan bell berbunyi keras menandakan pelajaran pada hari ini selesai. Gue bersama Viviana segera pulang.

Tak berapa lama ketika sampai tempat penitipan motor, gue langsung disambut pacar Viviana bernama Dimas. "Woy! Maksut lo apa deket - deket pacar gue? Haa!"

"Emangnya kenapa?  Gue kagak pacaran kok!"

"Sama aja goblok! Lo nantang gue apa? "

"Idiih... bilang gue Goblok! Gak sadar apa lo marah - marah gak jelas? Dasar Bangsat!"

"Bruak" Suara hantaman pukulan Dimas mendarat ke muka Gue.

Guepun juga membalas dengan pukulan cepat mendarat ke pulung ati, begitupun juga dengan Dimas memukul terus pada bagian muka gue.

Beberapa detik kemudian kami bertengkar, salah seorang dari temen gue misah perkelahian ini tanpa ada kekalahan maupun terjatuh dari salah satu pihak.

Tetapi muka gue saat ini langsung bonyok, bagian bawah mata membiru dan terdapat darah kental mengalir dari tangan. Sebab pukulan gue sempat mendarat pada giginya, sehingga mungkin tangan gue lecet terkena darah gigi dia yang gue pukul tadi.

Begitupun dengan dimas, kondisinya dia tidak begitu berdarah pada mukanya. Tetapi dia selalu  memegang bagian dada, tepatnya pada pulung ati dan bagian mulutnya berdarah.

Vivianapun langsung beranjak mengambil motor gue dan menyuruh gue untuk segera naik membawa pergi dari tempat kejadian ini. Supaya kami tidak di arak menuju ruang BK.

Dengan muka bonyok ini, gue hanya bisa nimbrung bersandar pada pundak viviana. Lalu membawa gue menuju taman kota.

"Dho, tunggu sebentar ya gue mau beli obat merah sama air dulu"

"Iya, tapi uang gue tinggal 20 ribu doang"

"Gue bawa uang kok, tenang aja"

"Oke deh, makasih ya"


Tak beberapa lama Viviana sampai dengan membawa obat merah, kapas,  dan plester dari apotek terdekat. Muka gue yang masih ada darah ini, langsung di bersihkan memakai basuhan air sampai bersih.

Vivianapun juga tak merasa jorok dan iklash melihat kapas bersimbah darah yang mengucur dari luka ini. Kemudian terakhir viviana langsung menutup luka dengan kapas di tetesi obat merah, lalu di tempelkan menggunakan plester.

"Dho ma'afin aku ya? gara - gara gue kamu jadi berantem"

"Nggak perlu minta maaf, gue yang salah terlalu dekat denganmu"

"Kamu nggak salah dho, yang salah itu Dimas dia memang cemburuan kayak gitu"

"Entahlah"

"Ya sudah, aku langsung putusin saja sekarang juga pacar gue itu yang bangsat!"

"Jangan putusin, nanti gara - gara gue lagi"

"Nggak kok! aku sebenernya juga nggak betah sama sikap dia, sering marah - marah. 

Jadi ini momen yang pas untuk putusin dia"
Handphone dari dalam tas Viviana segara di ambil olehnya, untuk segera menelfon Dimas.

"Hallo Dimas!" Ucap Viviana menelvon Dimas.

"Iya say?" Jawaban Dimas dari Telvon.

"Sekarang kita putus!" Ucapan Vivana membentak.

"Tapi,  Tapi,  tap" Suara dimas terputus dari telvon.

Akhirnya hubungan Viviana dengan Pacarnya yang Bangsat! bernama Dimas berakhir dari sebuah telvon, perasaan gue semakin berbunga - bunga, walapun keadaan masih bonyok seperti ini akibat duel jantan tadi.

Gue dan Vivanapun kini semakin lama semakin akrab, kami sering jalan berdua saat liburan maupun usai pulang sekolah. Walaupun hubungan kami masih sebagai teman saja.

6 comments:

  1. Entah kenapa kalimat "Walaupun hubungan kami masih sebagai teman saja." begitu terasa nyesek kedengarannya.

    ReplyDelete
  2. Iya kok saya juga ngerasa agak nyesek yak. Itu deket2 mau apa kalau nggak mau pacaran. :-D

    ReplyDelete
  3. Kayaknya yang nulis ini jomblo yach.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu sih iya pas kejadian ini, sekarang enggak dong

      Delete

Terimakasih sudah mengunjungi blog saya, jangan lupa untuk meninggalkan komentar untuk poshtingan ini, tentunya sesuai peraturan / di hapus komentar kalian:

• Komentar secara relevan.

• Komentar secara sopan.

• Dilarang spam komentar.

• Dilarang menggunakan (Annonymouse).

• Dilarang menaruh link aktif, sebaiknya gunakan (Opend ID).