Membawa Nama Orang Tua - Ridho Zamroni

Translate

Sunday, 24 September 2017

Membawa Nama Orang Tua

Tampang sangar seperti preman pasar, persetan dengan tampilan dan otak kosong di kepala. Tetap saja PD berjalan untuk masuk,  itulah kami pelajar goblok! 

Sayapun berpisah dengan mereka menuju kelas masing - masing. Tak berapa lama, kekhawatiran mulai mengusik benak saya kembali. Sebab si bahrudin guru matematika sudah datang berjalan menuju kelas VII B, bebarengan guru lain yang menuju kelas sebelah. Bahrudinpun menyambut hangat siswa siswi ada di kelas.

"Selamat pagi anak - anak, asalamu'alaikum wr. wb."

"waalaikumsalam wr. wb" ucapan semua siswa - siswi bebarengan.

"1+1=2"

"1-2=-1"

"1x2=2" 

"2:1=1"

*kurang lebih pelajaran matematika saat ini, mungkin seperti itu*

Setelah 1 jam sudah pelajaran ini di mulai, tanpa sadari mata saya ini mulai mengantuk. Akibat dari saya tidak suka pelajaran ini, tidak ngerti rumus yang di terangkan,  dan di dukung gurunya pula cenderung membiarkan tidak mau mengajari murid - murid seperti saya ini yang ketinggalan materi.

Saat pelajaran matematika ini berlangsung,  Saya cukup membungkuk sambil memejamkan mata dan pura - pura menulis saja,  supaya dikira tidak sedang tidur. Tapi, faktanya ternyata saya sudah tidur selama 15 menit.

"Soal Nomer 4, ayo Ridho kerjakan". Suara guru matematika memanggil untuk menyuruh saya untuk mengerjakan.

"Ridho!  Ayo kerjakan" Kembali memanggil.

"Dho!"

"Dho! "

Guru matematika, sebenarnya tidak tau kalau saya sedang tidur. Sebab saya duduk di bangku paling pojok sekaligus berada di belakang.  Bila di lihat dari posisi guru saya saat ini, yang di meja khusus guru depan. Mungkin, hanya terlihat kepala saja yang lagi menunduk, sehingga guru matematika inipun segera menanyakan keadaan saya sekarang ke murid - murid lainya.

"Ridho kok gak jawab,  kenapa dia?" suara guru matematika bertanya ke semua murid.

"mungkin dia bisu, pak" Jawaban raihan.

"hhhh, jangan - jangan Qoid" Tanggapan Supri.

"Hussh, walaupun begitu dia temen kita lhoo! Dia lagi tidur pak" seara teman wanita bernama Elin.



Langsung saja tanpa basa - basi lagi, Bahrudin segera menuju tempat saya yang berada paling pojok belakang ini. Tak lupa, kedatanganya membawa Rasengan di tanganya.

"Brrrruuuakk! " Suara Bahrudin yang merah, memnjatuhkan jurus rasenganya di hantamkan ke meja saya.

Saat itu juga,  saya kaget seketika!  membuat jantung saya hampir copot! Untung saja lem yang ada di jantung saya masih merekat.  jadi masih bisa bernafas, walau nafas saya hanya senin - kemis doang. Bahkan penderitaan saya mulai bertambah, belum lama kegaten saya berhenti,  Bahrudin sudah menarik kuping saya seperti hewan kelinci.

"Ayo cepat berdiri, di depan!" menyuruh saya segera ke depan sambil menarik kuping saya.

Setelah saya sampai di depan sambil dituntun menarik kuping saya tanpa ingat dosa,  Bahrudin tetap saja memarahi dan menjatuhkan jati diri saya di depan murid - murid yang lain.

Disitu saya sangat terpukul sekali, juga sakit! Bukan karena jeweran di kuping yang sudah memerah. Melainkan, pembunuhan karakter. Sebab, dia tidak segan mencaci maki dengan kata - kata sampah dan kebun binatang.

Apalagi dia juga membawa nama - nama orang tua saya yang juga berprofesi seorang Guru di sekolahan berbeda.  Sakitnya sudah tidak bisa di bayangkan lagi. Bila Bahrudin ini mungkin sebaya saya, pasti tangan saya sudah meluncur deras menghantam mukanya!

Yah,  memang membawa nama orang tua yang jabatanya sebagai Guru, identik panutan semua orang itu susahnya minta ampun! pasti setiap gerak - gerik saya selalu di sekolah selalu di sorot, oleh beberapa Guru yang tahu latar belakang saya sebenarnya.

Begitu juga dengan Bahrudin, yang tak asing lagi dengan ayah saya juga seorang Guru. Katanya sudah mengenal ayah saya sejak lama.  Entah itu di Dinas ataupun di lingkup pendidikan lainya, pasti sering bertemu. Jadi, tak heran kalau perkatan menyindir saya selalu benar semua dan langsung saya down ketika di beri perkataan tertentu.

Alhasil, saya pasti selalu menghindar bila bertemu Bahrudin. Dan tak segan - segan saya bolos saat pelajaranya berlangsung.  Entah hanya bersembunyi di area sekolahan maupu di luar sekolahan. Seakan persetan akan barudin, seorang Guru matematika.


12 comments:

  1. keren gan cerita nya, diambil dari kisah nyata, ada hikmahnya juga

    ReplyDelete
  2. Kalo bisa g usah pakai "nyet" segala lah , takutnya dibaca anak - anak berabe ntar.

    ReplyDelete
  3. bahasanya tolong jgn pke nyet

    ReplyDelete
  4. Permasalahan guru sekarang juga haya memperhtikan segi Kognitif (kecerdasan pengetahuan) siswa, namun tidak samapai ke pada segi Afektif (Perasaan). Dan ini kesalahan besar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya, bg ridho, ane o minta tolong dong, kasih saran perbaikan, Blog ane tak kunjung ke terima Adsens dengan Alsasan NAVIGASI SITUS SULT, lalu bagaimana? Saya udah maksimal memperbaikinya

      Delete
    2. nafigasi jangan sampai ad link yg mati, isi laman nya harus sesuai judul, kategorinya juga harus sesuai artikel, kelengkapan blog sprti tos privasi disclaimer bedain tempanya dan klo artikelnya msih sedikit lebih baik kategorinya jngn bnyk"

      Delete
  5. mantap ceritanya gan , kata-katanya tersusun rapi , nicelah ?

    ReplyDelete
  6. Mantap sih ..
    cuman bahasanya lebih di jaga lagi kak..
    hehe .. makasih

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mengunjungi blog saya, jangan lupa untuk meninggalkan komentar untuk poshtingan ini, tentunya sesuai peraturan / di hapus komentar kalian:

• Komentar secara relevan.

• Komentar secara sopan.

• Dilarang spam komentar.

• Dilarang menggunakan (Annonymouse).

• Dilarang menaruh link aktif, sebaiknya gunakan (Opend ID).